Tuesday, June 19, 2007

Part I

Berapa mil jarak antara kita saat ini, lima belas jam setelah burung besi membawaku melayang membelah langit - menyusuri garis pulau dan bibir pantai, di negeri-negeri yang hanya bisa kukagumi dari ketinggian? Aku tak hendak menghitungnya, itu adalah kesilapan. Karena saat kita duduk berdampinganpun, jarak antara hati kita adalah jarak terjauh yang ada. Tak terukur!

Jangkrik! Aku mengumpat dan merapatkan selimut yang tak mampu menghangatkan dingin tubuhku. Kutempelkan wajah ke sisi jendela pesawat, melihat gumpalan awan hitam dan kerlip lampu di bawah sana. Kulukis dengan jariku gumpalan hitam sebagai lengkung tebal alismu yang membingkai mata teduhmu dan menerka-nerka kerlip lampu seperti senyum manismu yang menentramkan. Sedang apa kau saat ini? Di Jakarta, pasti malam sudah menyunting pagi – semoga tidurmu indah. Meski mushil, pikirku tergelitik – kalau saja aku hadir dalam tidurmu malam ini? Sebuah khayalan tolol!

Kutatap sisi kananku yang kosong, seat beltnya mengejekku karena tak mampu memejamkan mata. Aku tersenyum sambil mengarahkan layar kameraku, andai kau disampingmu, pasti sudah ribuan foto kubuat untukmu. Semua sisi dirimu adalah keindahan yang memberiku batasan untuk menilai hal yang lain itu layak kukatakan indah atau tidak. Semua bermuara kepadamu. Sinting memang!

Kutepuk lembut bahuku, seolah tanganmu yang melakukannya. Lusa kemarin, saat kita bertemu dan duduk berdampingan, kau memeluk dan menepuk bahuku hangat. Tak berarti apapun bagimu, tapi tidak untukku – sentuhan itu seperti badai yang merenggut akal sehatku – membuatku tak lena tidur setelahnya.

Delapan belas jam setelahnya, aku disambut matahari hangat jam 5 sore di negeri yang asing. Kucuri pandang di sepanjang jalan, aneka keindahan musim semi begitu menggoda – anehnya, kau ada disana! Ada di sepanjang tol Ferihegy hingga Centro, diantara papan reklame sepanjang jalan, diantara rerumputan hijau, diantara kuntum krisan kuning, putih dan merah dan di antara jingga semburat yang merebak di cakrawala saat malam yang terlambat datang - mencoba menaklukannya.


Buda bermandi cahaya, Liberty Statue yang berdiri kokoh di puncak bukit seperti mengejek kesendirianku. Disisi Pest, di balik ruang sekretariat yang gaduh, aku menatapnya tanpa kedip. Tak kuhirau riak sungai Duna menarikan pendar lampu dipermukaannya yang tenang. Tak ada kau disisiku, kemeriahan ini terasa sepi menggigit!

Bahkan saat terbenam dalam rangkaian kerja hingga pukul 5 pagi, saat lelah melemahkan ketajaman indraku, sepanjang selasar Intercontinental hingga Basilica aku masih menjumpai biasmu diantara pendar cahaya lampu taman yang romantis, diantara bayang-bayang gedung tua yang saling merapat mencoba memeluk malam agar tetap tinggal. Aku menatap langit yang sudah membias terang...ah, malam terlalu cepat pergi! Aku bahkan tak sempat memimpikanmu malam ini!

at 2:26 AM 8 comments

  • didats