Wednesday, February 13, 2008

I Love You, 2 The N

Hujan makin merapat,curahannya membentur sisi luar kaca, yang tak jeda kupandangi. Lelehannya membentuk garis-garis menyerupai tetesan airmata dari pipi ranum sang pencinta. Semua abu-abu gelap, bahkan kerlip lilin berwana merah tak membuat ceria suasana.

Kau sudah berlalu di depanku sepuluh menit lalu, sisa jus jambu dalam gelas belimbing yang kau pesan belum tandas. Disebelahnya, ada tisu kisut bekas remasanmu yang basah karena airmata sesal. Pemandangan yang membuatku dungu karena tak tahu apa yang sejatinya kurasakan.

Pengakuanmu adalah penyebabnya. Sms-mu sejak minggu lalu sudah membirukan hariku. Tapi tak kuhirau, kesibukan membuatku bisa mengacuhkannya. Berharap, muramnya hari karena mendung yang menaungi Jakarta seminggu terakhir ini, bukan karena hal lain. Tapi membohongi diri sendiri seakan tak terjadi apapun, sungguh berat bagiku. Aku tak bisa menggiring matahari kembali ke tempatnya untuk sedikit memberiku kehangatan.

Kau mencintainya, dengan cara yang luar biasa. Dengan kegilaan yang membuatku cemburu dan sakit hati. Dia berhak mendapatkan hal itu karena dia lebih dulu mengenalmu. Tapi kini ada aku!! Dan sepanjang yang kutahu, kau tak pernah menyinggung kehadirannya dalam hidupmu. Tak pernah mengungkapkan padaku bahwa sebelum aku hadir, kau telah mencintai orang lain. Setelah kau bertemu lagi dengannya, cinta itu membiusmu, kau lupa telah menitipkan hatimu untukku (atau aku salah, karena menganggapnya demikian?). Kau terhanyut dan menikmatinya! Kau mengganggapku selingan musim panas yang luruh begitu lamaran musim gugur datang.

Akhirnya kebenaran membuka sejatinya dia, apa yang indah dan begitu membuaimu ternyata hanya aurora. Kau merasa tertipu, marah dan memutuskan untuk menjauhinya. Kau kembali padaku dengan luka yang justru membuatmu makin mencintainya.

Cinta telah membuatku bisu, aku menerimamu tanpa bisa melampiaskan kemarahan. Aku hanya bisa memaki dalam hati, mengutuki kebodohanku karena tak bisa menjadi apapun yang kau inginkan. Aku hanya bisa menjadi diriku, yang mencintaimu dengan sekerat hati yang kupunya. Seperti dibangunkan dari mimpi, ternyata ada banyak hal yang tak bisa kuberikan padamu. Dulu, alasan kau mencintaiku karena aku orang biasa, sementara keluarbiasaannya telah membuatmu mengingkari keberadaanku. Sekarang, aku harus berdiri dimana? Dimana kau menempatkan cinta dari orang biasa sepertiku? Apakah kesederhanaan itu tak indah dan membuatmu cukup?


Ternyata, cintamu padanya tak bisa mengalahkan kebencianmu, ceritamu tentangnya masih menggebu. Kau masih menjawab e-mailnya, masih melayani amarahnya di telepon dan sms-nya selalu berujung balasan darimu. Kau bahkan menyimpan balasannya untuk kau ceritakan padaku. Anehnya, aku masih punya hati untuk menerima perlakuan itu.

Bagaimana cara mengikat hatimu? Kau seperti angin yang tak bisa kujaring. Kalau kau memang tak lagi menginginkanku, bicaralah! Aku tak pernah siap kehilanganmu, tapi kalau itu yang terjadi, aku akan memaksa diriku untuk tetap menantang gelombang yang menerjang.

Aku ingin berarti bagimu, seperti dulu. Seribu cara akan kulakukan agar kau tak lagi menganggapku sunyi. Bila itupun tak mampu memalingkan dirimu darinya, aku takkan memohon padamu untuk tinggal. Cinta selalu menemukan cara untuk menemukan maknanya, bila cintaku tak juga cukup - akan kulepas kau untuk menemukan bahagiamu.

Langit benar-benar pucat meskipun sinar lampu mencoba menyamarkannya. Aku bangkit dari tempatku setelah melukis namamu di atas kaca berembun air hujan dengan tanganku yang gemetar. Lilin, percikan hujan, langit malam, angin dan taburan bintang ...dengarlah; aku mencintainya!!!!

Kuterobos hujan tanpa pelindung, kurentangkan kedua tanganku sambil mendongakkan kepala, menantang kilat yang sesekali membelah langit kelabu. Tak butuh waktu lama untuk takluk dan larut dalam hujan, aku lunglai dan terkapar dalam rinainya.


(Untuk SR....aku gak punya utang postingan lagi ya!)

at 4:19 PM 3 comments

  • didats