Wednesday, March 12, 2008

CURHAT TENGAH MALAM SANG JANDA

Episode I
Kalau saja bibirku bisa melafalkan berjuta mantra yang akan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya, akan kulakukan cara itu agar kita tetap bersama. Kalau saja ada tongkat ajaib yang bisa menghapus amarah dan ketidakpercayaan menjadi perasaan welas asih dan kejujuran, akan kugadaikan jiwa ini untuk mendapatkannya Sayangnya semua itu tak ada. Dan segala upayaku untuk membalikkan keadaan, nihil hasilnya!

Nyatanya, janji yang pernah kita ikrarkan saat upacara sakral digelar, kini tak bertaji lagi. Semua jalan damai dengan angkuhnya berpaling dan menjauh. Yang terbentang di depan kita adalah dipersimpangan yang menyudutkan, jalan itu bernama PERCERAIAN!

Kisah Rama - Shinta atau Kamajaya - Kamaratih seperti lelucon yang mengejek kegagalan kita. Dulu, kita percaya bahwa cinta akan menjadi kekuatan agung yang mengokohkan. Kita percaya bahwa cinta akan mendidik seseorang menjadi arif. Berharap, cinta akan melengkapi hidupku dan menyempurnakan hidupmu. Semua itu ternyata tak terbukti!

Tiga tahun menikah dengan dasar cinta, kini harus berakhir tanpa cinta. Aku dan kamu seperti orang asing yang tak punya lagi hati untuk saling memaafkan! Kau diseberang dengan kebenaranmu dan aku disisi lain dengan kebenaranku. Jujur, aku tak pernah menginginkan akhir serupa ini.

Kusesali, meski kegagalan ini bukan yang kuingini. Aku masih percaya bahwa cinta selalu menjadi pemenang dari setiap pertempuran ego dua manusia yang keras kepala. Aku menyakini itu, selangkah saat aku menjauh dari kehidupanmu.


Episode II

Tuhan punya cara untuk menghiburku dari kegagalan. Menutup lukaku dari cinta dengan cinta yang lain. Aku merasainya! Seperti dulu, penuh ledakan dan raupan emosi yang melenakan. Aku bahagia, yakin bahwa cinta kali ini bisa kupercayai keindahannya.

Aku tak bisa memilih dengan siapa hati ini mengarah. Kalau bisa, aku tidak akan pernah memilih mencintai sahabatmu. Ya, sahabatmu, yang sudah kukenal saat kita masih bersama. Yang cinta dan keindahaannya baru kulihat saat ini. Aku tak bisa mengelak darinya seperti dia tak bisa mengingkari kehadiranku dalam hidupnya. Jangan mencelaku karena mencintainya. Bukankah aku sekarang bebas mencintai dan dicintai siapapun?

Kenyataan bila kau adalah sahabatnya, kuanggap bukan gangguan. Nyatanya, bayangmu tak sepenuhnya hilang dari hidup kami, kau ada di sela langkah yang kami susun untuk mengukuhkan cinta. Kau seperti virus yang lambat laun merajam pikirnya, membisikkan keraguan dalam hatinya. Membuatnya bertanya padaku; sebesar apa cintamu sesungguhnya?

Aku memang pernah menjadi milik sahabatmu, tapi sekarang aku milikmu. Kau tentu tahu bahwa aku tidak memberikan separuh hatiku. Lain soal kalau kau menganggapku hanya manusia bekas yang tak pantas dicintai dengan sepenuh ketulusan. Kalau kau percaya, danau cintaku takkan pernah kering untuk cinta indah. Ladang cintaku tidak pernah gersang bagi cinta yang menghidupkan. Kau harusnya percaya itu.

Aku ternyata tak bisa mengharapkanmu, keraguanmu berlipat karena orangtuamu, terutama ibumu, tak menginginkan menantu seorang janda- bekas sahabat anaknya. Seolah predikat janda adalah pesakitan yang menular dan berlumur dosa. Perempuan waras manapun tak menginginkan predikat itu! Perceraian hanyalah kisah yang harus kulewati untuk belajar mengenal cinta sebenar. Dan kaulah yang kuharapkan menjadi cinta sebenarku.

Jangan gantung aku lebih lama lagi, perceraian telah mengajariku bagaimana menyikapi kegagalan. Meskipun aku menyesalkan kepengecutanmu tapi aku tak bisa memaksamu untuk mempertahankan aku tanpa restu ibumu. Dia punya seribu alasan mengapa menolakku sebagai menantu, meskipun sebagai sesama perempuan, aku sama sekali tak memahami perasaannya.

Aku akan mundur, menganggap cinta ini sebagai ujian kedua untuk menjadikanku pendekar cinta. Terima kasih untuk cinta yang tak berujung. Kupikir luka lama akan kering karenamu ternyata kau mememarkannya lagi dengan luka yang baru.

Selamat tinggal, aku takkan jera mencari cinta yang lain. Semoga ibumu bisa menemukan perempuan sempurna untukmu! Semoga dicinta berikutnya, kau benar-benar menjadi laki-laki yang tahu bagaimana harus bersikap!
Pukul 00.015 WIB

(Buat Sang Janda : bersyukurlah, karena kau tahu sejak awal bahwa dia bukan laki-laki yang pantas untukmu)

at 4:55 PM 3 comments

  • didats